Kisah Jherat Lanjheng (Kuburan Panjang) Bawean

Dokumentasi Jherat Lanjheng Pulau Bawean 2018

Kisah Jherat Lanjheng (Kuburan Panjang) Bawean

“Jherat Lanjheng” merupakan nama makam atau kuburan aneh di sebuah pantai Pulau Bawean. Jika ingin rekreasi kesana cukup menuju Pondok Pesantren Hasan Jufri, Kebun Agung, Desa Lebak. Jarak dari Alun-Alun Kota Sangkapura ke Pondok Pesantren Hasan Jufri hanya sekitar 3 kilometer. Bisa ditempuh dengan sepeda motor, mobil penumpang, atau cukup berjalan kaki. Sedangkan Jarak dari Alun-Alun Kota Sangkapura ke Pondok Pesantren Hasan Jufri sekitar 22 kilo meter, sebaiknya ditempuh dengan sepeda motor atau naik mobil penumpang bagi yang tidak punya mobil pribadi.

Sampai di depan Pondok Pesantren Hasan Jufri beloklah ke jalan desa ke arah selatan. Jalan itu lebarnya 3 meter. Belum di keraskan (belum diaspal), tapi sudah bisa di lalui kendaraan beroda empat(colt). Telusurilah jalan  sampai satu setengah kilo meter, maka akan jumpai jalan yang agak mendaki, kemudian menurun dan rata. Disitulah terdapat perkampungan yang dinamakan Dusun Tenggen atau Tanjung Anyar, masih termasuk kawasan Desa Lebak. Dihuni sekitar 300 penduduk.

Jika perjalanan itu dilanjutkan setengah kilometer lagi menyusuri pantai, maka akan didapati daratan yang menjorok ke laut selebar rata-rata 15 meter dengan panjang kurang lebih 500 meter. Pada ujung daratan itu dibatasi dua bukit 30 meter diatas permukaan air laut. Daratan yang memanjang ke selatan ini seakan memisah air laut sebelah timur dan sebelah barat.daratan itu disebut tanjung Alang-Alang.

Berada disana cukup menyenangkan. Kita bisa menikmati pemandangan di sebelah barat yang penuh dengan gugusan bukit yang indah dengan pemandangan pantai dilerengnya yang penuh pesona. Sementara jika kita membalikkan badan ke timur, tanpa halangan apapun, kita dapat memandang perahu-perahu nelayan dengan layar terkembang yang terpampang pada tiang perahu rapi seakan mengajak ke laut bebas. Nun jauh disana tampaklah rumah-rumah penduduk di Dusun Pateken Sangkapura sebesar korek api yang dilatar belakangi Pulau Selayar yang begitu anggun.
walau Tanjung tersebut sangat ceking karena dikikis air laut, tapi belum ada tanda-tanda untuk putus sama sekali. Sebab sepanjang daratan itu terpanjang barisan pohon kelapa dan semak-semak serta peohonan besar lainnya. Yang paling rileks kalau berteduh di bawah pohon yang terbesar karna sekitar itu terdapat tanah rata berumput yang luas, cukup untuk dua buah lapangan voli ball. Di bawah pohon besar inilah terdapat “jherat lanjheng” atau kuburan panjang.

Dikatakan kuburan panjang karena panjang kuburan tersebut tidak umum atau tidak sama dengan kuburan lainnya. Yakni 11.5 meter. Tidak jauh darinya ada juga makam yang seperti itu tapi lebih pendek, hanay 9 meter. Kedua kuburan panjang itulah yang menjadi pokok cerita berikut ini.

Empat belas tahun yang lalu tersebutlah pemuda Aji Saka di Negri India. Ia baru saja tamat dari perguruan silatnya. Gurunya seorang resi sehingga Aji Saka dibekali juga dengan ilmu mandraguna. Aji Saka dinobatkan sebagai murid teristimewa dan paling satria diantara rekan-rekan seperguruannya,hal ini ditandai dengan penyerahan barang pusaka selembar serban putih oleh guru yang sekaligus sebagai kakeknya.

Ketika pengabdian kepada gurunyadianggap sudah cukup, ia mengutarakan maksudnya kepada sang guru bahwa ia akan mengembara guna mengamalkan ilmu-ilmunya ditempat lain. Di samping itu Aji Saka ingin sekali menyaksikan pemandangan yang indah-indah di belahan lain bumi ini yang di ciptakan oleh Ynag Kuasa.

“Rumput yang ditanam di dalam rumah tidak akan tumbuh besar, Guru”. Bujuk Aji Saka kepada gurunya.

“Bagus! Dengan lapang dada aku lepaskan engkau dengan iringan doa. Bulatkan niatmu itu!” kata sang Resi dengan penuh wibawa.

Maka berangkatlah Aji Saka dengan membawa barang-barang pusakanya. Selain itu ia di dampingi oleh dua orang penakawannya yaitu Dora dan Sembada. Kini tibalah mereka disebuah pelabuhan pantai yang indah, dan senanglah hati mereka.

Tidak jauh dari sana, Aji Saka mendekati seorang nahkoda yang sedang beristirahat sambil menunggu anak buahnya yang membongkar muat barang-barang perahunya. Setelah Aji Saka mengutarakan maksud dan tujuan pengembaraannya, nahkoda perahu itu menjelaskan bahwa pemandangan pantai itu tidak seberapa. Yang lebih indah dan mengagumkan adalah pemandangan-pemandangan di Nusantara. Aji Saka tambah kuat keinginannya untuk menyaksikan pemandangan yang di maksudkan nahkoda itu.

Aji Saka melanjutkan perjalanannya bersama kedua panakawannya dengan menumpang perahu layar tersebut. Tidak lupa barang-barang pusakanya dibawa serta perjalanannya mengarungi lautan itu memakan waktu berminggu-minggu. Pada suatu pagi, berlabuhlah perahu tersebut disebuah pelabuhan alam di Pulau Majeti (kini disebut Pulau Bawean). Giranglah Aji Saka melihat pelabuhan dengan pemandangan yang begitu menakjubkan. Mereka kemudian keluar masuk kampung di pulau asing itu guna menemukan dan menikmati pemandangan-pemandangan di beberapa bagian pulau itu.

Di sebuah perkampungan bertamulah Aji Saka dengan seorang kakek yang arif lagi bijak. Selanjutnya kakek itu mengutarakan bahwa pemandangan-pemandangan di Pulau Jabadiu (Pulau Jawa.

“apakah Pulau Jabadiu termasuk pulau Jawa, kek?” tanya Aji Saka.

“ya! Bahkan disanalah pusat Nusantara!” Jawab kakek dengan suara serak, kini barang-barang pusakanya semakin banyak. Untuk di bawa semuanya ke Pulau Jabadiu tidak memungkinkan. Aji Saka kemudian mengemukakan problemnya kepada kedua penawakannya.

“Sebaiknya seorang diantara kami menjaga pusaka-pusaka di pulau ini.” Usul sembada.

“Ya betul. Kita undi saja, Tuan!”

“baiklah usulanmu sangat bagus, mari kita laksanakan!” lanjut Aji Saka sambil melakukan undian. Ternyata yang menang undian adalah Sembada. Sehingga dia harus mendampingi Aji Saka melanjutkan pengembaraannya. Sedangkan dora harus di tinggal di Pulau Majeti.

Sebelum Aji Saka berlaayar ke Pulau Jabaidu,ia berpesan pada Dora untuk menjaga barang-barang berharga yang ditinggalkannya tersebut. Jangan sampai barang pusaka tersebut diberikan kepada siapapun kecuali Aji Saka sendiri.

“kelak aku akan menemuimu Dora, sambil membawa barang-barangku ini.” Pesan Aji Saka kepada Dora berikutnya, Dora dengan patuh akan memegang teguh pesan tuannya dan ia telah berjanji akan menjaganya sepenuh hati walau nyawanya sebagai taruhannya.

Dengan menumpang perahu nelayan, pergilah Aji Saka dan Sembada ke Pulau Jabaidu. Di Pulau Jabaidu mereka menumpang pada keluarga yang sudah sepuh di sebuah gubuk lereng di tepi laut. Keluarga itu terdiri dari seorang kakek dan seorang nenek.walau begitu, puaslah Aji Saka karena ia dapat leluasa menikmati pemandangan yang ia inginkan dan gubuk itulah sebagai tempat istirahat.Setiap mentari mengintip di ufuk timur yang membuat pemandangan pagi yang sangat memikat. Aji Saka selalu menikmatinya. Begitu juga jikalau senja tibu dan sang surya beranjak ke peraduannya tidak lepas dari penyaksiannya. Sungguh Aji Saka benar-benar terpukau pada pemandangan di pulau pusat Nusantara itu.

Daerah yang di tumpangi Aji Saka itu termasuk kekuasaan kerajaan medang yang rajanya seorang raksasa yang kejam. Setiap hari harus menyantap manusia hidup-hidup. Maka tiap hari pula tapih raja mengadakan undian kepada yakyat untuk di mangsa rajanya. Setiap saat rakyat selalu gusar karna jangan-jangan undian jatuh pada dirinya, yang berarti mati akan segera menjemputnya.

Tanpa di duga undian itu jatuh pada bapak angkat Aji Saka. Menangislah kakek-nenek berhiba-hiba karna besok pagi mereka harus berpisah selama-lamanya.Aji Saka sangat terharu mendengar tangisan keduanya. Maulah ia mengetahui pasalnya.
Tatkala Aji Saka mengetahui masalah dan memahami perkara itu, ia menenangkan keluarga itu. Aji Saka mengemukakan bahwa dirinyalah yang akan berkorban untuk dimakan raja.

“Jangan anakku! Jangan kau korban dirimu hanya untuk memuaskan hati raja yang ganas itu!. Engkau masih muda, masih banyak kenikmatan dunia yang harus engkau rasakan!.”  Ujar emaknya, membujuk agar ia saja yang diserahkan kepada Prabu Dewatacengkar.

“Emak dan Bapak! Saya menyerahkan diri bukan untuk mati, tapi hanyalah suatu siasat untuk membinasakan raja itu. Prabu Dewata cengkar ituharus dibinasakan agar rakyat Medang ini selamat dan hidup tentram.”

“Sanggupkah engkau mengalahkan raja itu, Anakku?” tanya emak angkatnya ragu-ragu.

“Doa Emak dan Bapak jualah yang saya harapkan!”

“Baiklah anakku, demi kesejahteraan seluruh rakyat Medang, bapak akan berdoa supaya engkau dapat mengalahkan raja yang sangat kejam itu.” Sambut bapak angkatnya yang mulai yakin.

Keesokan harinya yang di kawal para patihnya, Aji Saka dihadapkan pada raja. Dan raja sangat senang karna sebentar lagi ia akan menyantap makanan yang gurih, masih mudan dan berparas tampan. Seperti biasanya, sebelum di mangsa, raja menawarkan permintaan terakhir pada calon korbannya. Akhirnya Aji Saka meminta kepada raja sepetak tanah seluas surbannya. Karna tanah itu akan dihadiahkan kepada kakek angkatnya, Aji Saka memohon agar penyerahannya agar disaksikan oleh segenap rakyat di Kerajaan Medang.
mendengar pengumuman para patih raja, dalam waktu sebentar rakyat berkumpul di istana termasuk kakek-nenek angkatnya Aji Saka. Ketika semuanya telah siap, tanah permintaan Aji Saka mulai diukur . Aji Saka memegang ujung serbannya sebagai ukuran, sedangkan kedua ujung serban  yang lain di pegang oleh raja. Sambil menarik serban putih itu melangkahlah Prabu Dewatacengkar kebelakang. Apa yang terjadi?
setiap serban itu ditarik raja, setiap itupulah bertambah panjang. Akhirnya kini sudah melewati batas wilayah kerajaan Medang dan sampailah ditepi pantai selatan Pulau Jawa. Raja merasa kepayahan. Pada saat raja agak lengah, dikibaskannyalah serban tersebut oleh Aji Saka. Raja terpelanting ke laut kemudian menjelma menjadi seekor buaya putih penjaga Laut Selatan.

Atas kemengan itu bersorak-soraklah seluruh rakyat yang menghadirinya. Sejak itu di mulailah perhitungan Tahun Saka oleh orang jawa. Sedangkan Aji Saka sendiri dipercayakan untuk menjadi raja mereka. Prabu Aji Saka memerintah dengan adil dan bijaksana sehingga rakyat makmur dan sentosa. Beliau selalu memperhatikan setiap rakyatnya. Dan rakyat sangat mencintai rajanya.
suatu hari Aji Saka teringat pada barang-barang pusakanya yang di tinggal di Pulau Majeti. Oleh karna barang-barang itu sangat dibutuhkan untuk keperluan kerajaan maka dipanggilnyalah Sembada untuk mengurus barang-barang itu.

“Sembada masih ingatkah engkau akan barang-barang yang di jaga di Pulau Majeti  oleh Dora?”
“ya, Gusti.”
“Bawalah benda-benda itu kemari. Jangan ada yang tertinggal. Ingat! Kau jangan kembali dengan tangan hampa! Kalau kau sudah siap, berangkatlah sekarang juga!”
“Baik Gusti! Percayalah hamba akan pulang dengan membawa barang-barang milik Gusti!” jawab Sembada sembari bersiap-siap meninggalkan tuannya. Dan berlayarlah sembada ke Pulau Majeti.
Betapa gembiranya Sembada ketika di tempat dulu masih di jumpai kawan nya yang setia menjaga barang-barang tuannya. Barang-barang itu dalam keadaan baik dan lengkap. Mereka bersalaman penuh haru dan melepas rindu. Sembada menuturkan keadaan tuannya di Jawa yang kini telah menjadi raja. Dora ikut merasa bersyukur dan senang.

Sembada kemudian menjelaskan maksud kedatangannya. Ia meminta kepada Dora agar Dora menyerahkan barang-barang pusaka tersebut kepada Sembada untuk di bawa ke Jawa. Dora, tidak memberinya karena ia teguh memegang amanat tuannya dahulu. Teringatlah Sembada akan pesan tuannya. “Jangan sampai pulang dengan tangan hampa!” karenanya Sembada terus mendesak Dora, tapi Dora tetap mempertahankannya.
kala itu Dora pun ingat betul pada pesan Aji Saka, dan akan setia kepada janjinya sendiri bahwa Dora tidak akan memberikan barang-barang pusaka kepada siapapun, kecuali kepada tuannya sendiri.
“ Benda itu tetap akan kau pertahankan, Dora?”
“ Benar! Benda-benda ini hanya akan kuserahkan kepadanya.” Jawab Dora tak kalah bijaksananya.

“Walau dengan kekerasan?” desak Sembada.
“Yah. Nyawaku sebagai taruhannya!” jawab Dora tegas.
Karena tidak sabar, menyeranglah Sembada yang gemuk itu kepada Dora yang tinggi dan jangkung itu. Terjadilah perkelahian yang amat sengit. Mula-mula sama-sama tangan kosong. Kemudian sama-sama mengeluarkan keris. Duel antara penawakan itu berlangsung lama karena sama-sama satria dan sama-sama sakti. Saling memukul, membanting dan menerjang. Keliatan api selalu tampak akibat benturan keris mereka yang amat keras. Ketika keduanya sama-sama lelah, tiba-tiba “Hiaaaat!” Dora mengeluarkan suara melengking nyaring. Untuk ketiga kalinya ia menerjang secepat kilat. Kerisnya diarahakan ke dada Sembada.
Kali ini Sembada tidak ada kesempatan untuk mengelak. Keris Dora itu tepat menghunjam di dadanya. Namun secepat itu pula ia berhasil menusukkan kerisnya ke lambung Dora.
Keduanya terbelalak sejenak sambil tangannya memegang kerisnya masing-masing yang masih menancap pada sasarannya. Kemudian mereka berangkul-rangkulan. Sementara darah mengalir deras sekali dari tubuh mereka . beberapa detik kemudian, merekapun roboh dan tak berkutik lagi. Mereka tewas dalam mengemban tugasnya masing-masing. Dra tewas demi memegang teguh pesan tuannya dan mempertahankan janjinya sendiri. Sembada tewas dala melaksanakan tugas yang dieberikan tuan kepadanya.

Berminggu-minggu Prabu Aji Saka menunggu Sembada tapi tak kunjung datang. Maka pergilah ia dengan diikuti prajuritnya. Sesampai di pantai Pulau Majeti, kagetlah Aji Saka menyaksikan kedua penakawannya yang telah gugur dengan keris yang masih tertancap di tubuhnya masing-masiing. Kemudian Dora dikuburkan di bawah pohon besar(kata orang bawean kuburan “dera” yang dikenal dengan “Jherat Lanjheng”). Sedangkan Sembada dikebumikan dekat kuburan penduduk yang tidak jauh dari kuburan pertama.

Diantara kedua kuburan tersebut, Aji Saka membuat prasarti sebagai kenang-kenangan kepada kedua penakawannya di samping juga sebagai pelampiasan rasa sedihnya yang tak terhingga. Prasasti tersebut di tulis di sebuah batu besar dengan ejaan Jawa Kuno., sayang, batu tersebut kini telah di pecah-pecah penduduk sebagai fondasi jembatan muara, lebak. Hal ini tulisan Aji Saka itu berbunyi :
Ha---na--- ca--- ra ---ka (ada dua utusan)
Da ---ta ---sa--- wa ---la (mereka bertengkar)
Pa ---da--- ja--- ya--- nya (sama-sama kuat)
Ma ---ga ---ba--- ta ---nga (sama-sama menjadi bangkai)

Menarik bukan kisahnya? Silahkan kalian share jika menarik biar tenan-teman kita yang lain juga bisa menikmati serta mengetahui kisah yang terselubung di pulau Bawean ini.

Salam Niteluzz


0 Response to "Kisah Jherat Lanjheng (Kuburan Panjang) Bawean"

Post a Comment

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel