Peta Penyiaran Islam di Sangkapura Bawean


Peta Penyiaran Islam di Sangkapura Bawean

Islam masuk ke Bawean, disiarkan ada yang mengatakan berasal dari Komalasa, Komalasa merupakan salah satu desa yang secara geografis berada di wilayah kecamatan Sangkapura Bawean. Sedang Bawean sendiri merupakan sebuah pulau yang saat ini terklaim menjadi bagian dari kabupaten Gresik. Bawean sendiri sebagaimana telah dikatakan di artikel sebelumnya, masyarakat pulau Bawean beragama Islam 100%, sebuah prestasi dari seorang penyiar agama Islam yang datang ke pulau Bawean dengan mengalahkan Raja Babilonia atau ada yang menyebutnya Raja Babilon.

Tahukah kalian bahwa penyebaran agama Islam di Bawean memiliki peta penyiaran yang mungkin disitulah titik dimana perkembangan agama Islam di Bawean sangatlah cepat. Oleh karenanya Niteluzz pada artikel kali ini ingin berbagi peta penyiaran agama Islam di Sangkapura. Simak ulasan peta penyiaran Islam di kecamatan Sangkapura.

1. Sungai Raya

Sungai Raya atau biasanya orang Bawean menyebutnya dengan istilah Songai Raje yaitu diambil dari sebuah nama sungai di desa Lebak yang bermuara di kampung bernama Moara/Muara.oleh karena di dekat sungai itu kemudian dijadikan pemukiman penduduk yang akhirnya menjadi kampung, maka kampung tersebut diberi nama Kampung Sungai Raya.

Pada saat raja Babileono atau dikenal Babilon menyerang Raden Umar Mas’ud dengan kerisnya secara tiba-tiba, Maulana Umar Mass’ud dapat menepisnya dengan tidak kalah gesitnya. Sehingga keris tersebut terpental dan berbalik arah menusuk tubuh Raja Babilon yang akhirnya membawa maut untuk Raja Babileono itu. Mayatnya lalu dibuang orang ke laut lewat sungai itu.

Hatta, dalam cerita lain disebutkan bahwa ternyata salah satu pengikut setia Raja Babilon, ingin membalas atas kekalahan rajanya ia juga akan melawan Maulana Umar Mas;ud denga kesaktiannya.

Sebelum pendekar itu menyerang, Raden Umar Mas’ud bergerak mundur kearah barat dengan harapan tidak terjadi duel dan tidak terjadi yang kedua kalinya. Umar mas’ud berfikir akan melaksanakan dakwanya dengan lisan sudah tidak lagi dengan kekerasan. Namun pendekar it uterus bergerak maju, sampai Umar Mas’ud melocati sebuah sungai, sungai itu telah memisahkan kedua pendekar jago tersebut. Maulana Umar Mas’ud di sebelah barat sungai dan pendekar andalan itu di sebelah timur. Namun pendekar yang kalap itu rupanya bersikeras untuk menyerang Umar Mas’ud  sehingga ia mengeluarkan kesaktiaanya menjelma menjadi seekor lebah atau tawon. Tawon tersebut terbang membubung dan melampaui sungai untuk kemudian menerkam Umar Mas’ud.

Dalam pada itu tentu Umar Mas’ud tetap waspada, yang akhirnya tawon jelamaan itu dapat dibunuh oleh Umar Mas’ud.

2. Pedalaman

Maulana Umar Mas’ud kemudian menjadi raja di pulau Bawean sebagai pengganti Raja Babileono. Istana kerajaan yang semula terletak di Panaghi, desa Bulu Lanjang kemudian dipindahkan ke dusun Sungai Raya, desa Lebak kecamatan Sangkapura. Sedangkan pemukiman kerajaan keraton atau keluarga keluarag “dalem” terletak tidak jauh di sebelah barat sungai Dusun Sungai Raya yang kini bernama dusun Pedalaman. Jadi sebutan “Pedalaman” itu diambil dari temapat “keluarga dalem” atau rumah keluarga keraton untuk beristirahat . Dari keluarga “Pedalaman” inilah dakwah Islam direncanakan dan disebarkan. Sehingga bisa dikatakan pedamalan juga merupakan peta penyiaran Islam di Sangkapura.

3. Gunung Lanjheng

Jalan-jalan yang selalu dilalui keluarga Pedalaman pada saat pengislaman Desa Dissalam cukup jauh. Mereka harus melewati gunung yang penjang atau onggokan tanah yang panjang. (orang Bawean tidak membedakan antara gunung dan bukit. Pokoknya ada timbunan tanah ditumbuhi pepohonan dan lebih besar dari pada rumah disebutnya gunung, walau dalam keilmuan digolongkan bukit).

Gunung yang sering dilewati rombongan itu memang panjang, tebentang antara Panaghi dan kampung Pamondhukan (kampung yang ditempati orang mondok dahulu ketika mempelajari ilmu-ilmu agama Islam). Karena gunung yang dilewati para muballigh dan muballighah dianggap cukup panjang menurut ukuran mereka, dan bentuknya memanjang, maka tempat (kampungnya yang ada di sekitar gunung) itu dinamai kampung Gunung Lanjheng (gunung yang panjang). Danbisa dikatakan peta penyiaran agama Islam karena seringnya Muballigh melewati tempat tersebut.

4. Buluar

Menurut Ahmad Mazidi, putera Kiai Hasan Bululanjang, nama kampung tersebut bukan Bululuar, melainkan Buluar. Berasal daai kata Buluh Oar untuk memudahkan pengucapan ditulis dan dibaca Buluar. Buluh Oar adalah batang berasal dari tanaman semacam penjalin yang dijadikan tongkat oleh Maulana Umar Mas’ud untuk menaklukkan Raja Babileono dalam pertarungan adu kesaktian. Dengan “buluh oar” itu diambil dari rumpun tanaman di sebuah dusun yang kini bernama dusun Buluar.

Ternyata kerbau kepunyaan keluarga Raja itu cukup sakti, karena tidak hanyut diterkam ombak dan tidak busuk  yang lambat laun menjadi sebuah batu. Kini batu tersebut  terdapat di pantai dusun Muara, desa Lebak. Orang sekitar menyebutnya “Batu Kerbhui”atau natu kerbau.

Sebenarnya, sebelum dihalau ke tempat keramaian, kerbau itu selalu digembalakan di sebuah kebun kini bernama “Kebun Agung”, berasal dari “kebun”nya orang “Agung” ,. Sedangkan tempat keramaian ada kesaktian itu di gua terletak di “Karamen”. “Karamen” adalah sebilah tanah atau sawah disebelah selatan Pondok Pesantren Hasan Jufri, Lebak dan di bagian timur sungai memanjang dari Duko Durin Muara, tempatnya, “Karamen” itu terletak di sebelah selatan rumahh pak Yasin yang baru. “Karamen” berasal dari tempat “Karamen” adu sakti antara Maulana Umar Mas’ud dengan Raja Babileono.

5. Pamasaran

Dari dusun Buluar, rombongan turun melewati pematang-pematang sawah dan naik kembali ke perkebunan. Di antara perkebunan dan ladangtersebut terdapat lapangan yang cukup luas dan tidak panas. Pada pagi hari selalu banyak orang untuk menukarkan barang-barangnya disana. Keluarga Dalem pun sering berbelanja di “Pasar” itu. Yang kemudian di sekitar tempat itu disebut kampung PAMASARAN. Berasal dari mula-mula terbentuknya kampung tersebut. Yakni “Pasar” atau tempat “memasarkan” barang-barang dagangan yang dalam bahasa Bawean ditulis dan diucapkan “Pamasaran”.

6. Dissalam

Oleh karena “Pamasaran” ketika itu belum berupa kampung atau dusun atau belum ditempati penduduk bermukim maka rombongan itu melanjutkan perjalanannya kea rah timur kemudian berbelok ke utara. Jalan-jalan licin yang berupa tanah liat warna merah, mereka lalui dengan sabr. Dan sampailah ke sebuah perkampungan yang penduduknya masih kuat menganut agama HinduBudah. Di kampung tersebut justru dakwah keluarga Umar Mas’ud tidak mendapat sambutan saa sekali. Mereka menolak, walaupun telah berkali-kali ditawari dan diajak untuk memeluk agama Islam. Ahirnya rombongan pedalaman ini melanjutkan safarinya kea rah utara lagi. Dengan melewati sungai dan sawah, sampailah di sebuah kampung yang dikelilingi sawah. Sambutan kampung itu ternyata sangat berbeda dengan kampung sebelumnya.

Selama juru dakwah itu melaksanakan misiinya, baru masyarakat kampung itulah yang paling besar sambutannya dan harapannya untuk mengikuti dan menerima ajaran Islam. Sehingga sasaran utama dakwah diarahkan ke kampung tersebut. Dan benar, dalam waktu yang relative singkat semua anggota masyarakatnya telah memeluk Islam seratus persen. Dan itulah dusun yang pertama kali menjadi Islam (diislamkan) di pulau Bawean. Sehingga dinamakan Dusun DISSALAM dari kata  “Abdi Salam” (hamba selamat).

7. Patar Selamat

Sesungguhnya, sebelum memasuku dusun Dissalam keluarga Pedalaman selalu menawarkan atau menawari penduduk desa Paar untuk memeluk agama Islam. Memang letak dusun Patar lebih dekat ke Istana kerajaan dari pada dusun Disssalam. Dusun ini pun selalu dilewati keluarga Pedaleman jika akan darir dari Dissalam. Tapi masyarakat dusun selalu ditawari (bahasa Baweannya “epatareaken” atau “epatare’e” itu selalu menolak untuk memeluk agama Islam. Lalu masyarakat (tempat menawarkan) saja karena sulit untuk diislamkan. Akhirnya dusun itu diberi nama dengan Dusun Patar.

Baru setelajh dusun-dusun di sekitarnya banyak yang masuk Islam masyarakat Patarpun mau memluk agama Islam. Yang kemudian dusun atau desa itu ditambahi “selamat” sehingga menjadi dusun atau desa Patar Selamat (artinya dusun atau desa yang telah selamat dari kekafiran).

8. Aer Koneng

Aneka jenis jalan harus dilalui Keluarga Pedaleman untuk menuju dan pulang dari dusun Dissalam. Bukan hanya padang dan jalan keras, melainkan juga lembah, jalan setapak dan persawahan. Hal ini masih dapat terlihat masa globalisasi saat ini, maka tidak heran kalau kaki mereka selalu berlepotan lumpur atau setidaknya ditempeli tanah liat. Mereka lalu mencari sumber air untuk membersihkan kaki atau tubuh mereka sebelum masuk keraton.

Tempat untuk membersihkan kaki, cuci muka, buang air kecil, mengambil air sembahyang dan lain-lain terletak di sebelah timur dusun Buluar. Disana ada sumber air cukup luas dan dalam. Namun lambat laun warna airnya yang semula bening, berubah menjadi kekuning-kuningan karena seringnya dipakai. “Air”nya “Kuning”. Sehingga akhirnya keluarga Pedaleman itu selalu mengatakan, “akan pergi ke sumber Air Kuning (air yang warnanya telah kekuning-kuningan) dan kampungnyapun setelah dihuni penduduk dinamai Kampung Air Kuning (Aer Koneng) yang terletak di desa Bululanjang.

9. Pamondhukan

Orang-orang yang baru masuk Islam oleh keluarga Dalem dan Umar Mas’ud ditampung pada sebuah kampung di desa Bululanjang, yang kini bernama Kampung Pamondhukan. Di kampung ini para muallaf diajari dan diberikan pengetahuan tentang Islam baik dari desa Bululanjang atau yang dari luar. Mereka dipondokkan untuk beberapa saat. Sehingga kampung itu diberi nama “PAMONDHUKAN”

Nah kiranya begitulah sepak terjang perjuangan Raden Umar Mas’ud beserta keluarga dalam mengislamkan masyarakat Bawean khususnya wilayah sangkapura. Semoga tulisan kecil ini bisa menambah wawasan buat pengunjung dan pembaca. Saya harap tulisan ini dishare di media social guna berbagi wawasan karena menurut kami pribadi bahwa tidak sedikit masyarakat Bawean yang mengetahui cerita tersebut

0 Response to "Peta Penyiaran Islam di Sangkapura Bawean"

Post a Comment

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel