Salah Satu Keris Untuk Indonesia Berasal Dari Bawean



Keris Nenek Enna, Untuk Indonesia

Bawean, 30 April 1981
Lepas waktu lohor, samar-samar di arah selatan tampak sebuah helikopter yang biru keluar dari balik awan. Dalam waktu yang tidak lebih dari sepuluh menit, helikopter milik TNI Angkatan Darat tersebut telah mendarat di bumi Nagasari, Desa Kotakusuma, Kecamatan Sangkapura.

Tidak banyak orang yang melihat dekat helikopter di lapangan itu. Karena sebelumnya, penduduk tidak mendengar beritanya. Dan juga kehadiran sebuah helikopter di Bawean kala itu sudah tidak asing lagi. Lain halnya pada tahun 70-an, orang-orang senang sekali jika mendengar akan ada helikopter yang akan ke Bawean. Mereka telah bersiap-siap pada waktu yang telah ditentukan. Anak-anak, gadis-gadis dan orang tua da ribut yang tidak terartur. Begitu telah mendengar suara helikopter yang memasuki langit Bawean, mereka berlari kesana kemari, bingung seakan mengikuti gaya helikoper diatasnya yang segera mendarat. Dan setelah itu mereka berbondong-bondong walau lelah pergi ke tempat helikopter mendarat serta berlama-lama disana.

Tetapi kin tatkala heli dari Jakarta itu mendarat, penduduk Bawean sudah tidak lagi “komarok”. Hanya sebagian orang tetangga lapangan Nagasari yang melihat-lihat kesana untuk mengisi waktu senjanya. Helikopter bernomorHS-7054 itu tidak begitu besar. Cuma sembilan orang yang keluar dari pintunya. Mereka tampak santai. Tiga orang berpakaian militer, satu orang preman, lima orang berpakaian adat yang mencolok kejawannya.

Satu diantara rombongan itu adalah Bapak Sudjono Homardani, yang di masyarakat Bawean beliau dikenal sebagai seorang dukun-besar atau para normal dari pada dikenal seorang  jendral TNI.sesaat kemudian, sebagian dari mereka menghubungi Pemerintah Kecamatan Sangkapura, dan sebagiannya menghubungi Pemerintah Kecamatan Tambak.

Lalu, dengan mengendarai mobil, rombongan dari “pusat” tersebut menuju rumah Kepala Desa Gelam, Kec. Tambak. Dari rumah inilah dua diantara mereka menuju kuburan “NENEK ENNA” di puncak Gunung Pataonan untuk bertapa, beberapa pengantar dang orang-orang tertentu termasuk Kepala Desa Gelam di perkenankan untuk mengikutinya tapi dari jarak yang tidak jauh dari pertapaan.

Kabar yang tersiar dikalangan masyarakat  Bawean ketika itu bahwa rombongan itu akan mengambil “rusa putih” di Pulau Bawean yang konon sebagai penjaga dua buah keris sakti milik Nenek Enna. “Jika rusa putih itu didapat, keris pusaka tersebut telah keluar dari Pulau Bawean, maka Bawean sudah hilang pamornya. Bawean sudah tidak akan bersinar lagi.” Begitu petuah kakek-nenek Bawean.

Tentang benda-benda pusaka Bawean yang diburu petapa tersebut, Kak Suri guru SMA Islamiyah, Tambak yang suka sejarah ini bercerita sebagai berikut.

Ketika tahta Kerajaan Demak dipegang oleh Arya Penangsang(Raja Demak yang ke-4 : 1546-1568), bayak rakyat dan adipati yang tidak suka kepada rajanya. Karena Arya Penangsang sangat kejam. Ia membunuh Pangeran Prawoto yang dianggap membunuh ayahnya (Pangeran Sekar Sedolepen). Arya Penangsang juga menghabisi keluarga dan pengikut Prawoto. Termasuk Adipati Jepara. Sehingga sana sini timbul pemberontakan. Dalam suatu pemberontakan yang di pimpin oleh Ratu Kalinyamat (istri Adipati Jepara) terjadilah perkelahian yang seru dan dramatis antara Arya Penangsang dengan Jaka Tingkir (Adipati Pajang) yang akhirnya Arya Penangsang dapat ditaklukkan oleh Jaka Tingkir.

Jaka Tingkir nama kecilnya Maskarebet. Memiliki senjata pusaka berupa Keris Nogososro dan Sebut Intan yang sulit dikalahkan oleh benda pusaka lainnya.

Ia seorang raja yang menghargai jasa pengikutnya. Raden Adiwijaya banyak memperoleh bantuan dari Kiai Gede Pamanahan dalam mengalahkan Arya Panangsang. Sebagai belas jasa, Kiai Gede Panahan mendapat tanah Mataram (sekitar Kota Gege, Yogyakarta). Dan Kiai Gede Pamanahan diangkat sebagai Bupati Mataram. Ia wafat tahun 1575 dan diganti oleh puteranya bernama Sutawijaya. Sutawijaya sangat pemberani dimedan peperangan sehingga di samping Bupati Mataram, ia juga menjadi Komando Pasukan Pengawal Raja. Senjata saktinya bernama Tombak Ki Perlet. Ia bercita-cita tinggi yakni menjadi penguasa di Pulau Jawa. Ia bermaksud mempersatukan kerajaan-kerajaan di Pulau Jawa di bawah kekuasaannya. Dengan diam-diam ia menyusun kekuatannya.

Setelah pasukannya dianggap kuat, Sutawijaya sudah tidak setia lagi menyerahkan upeti pada Kerajaan Pajang. Dan ia berani melepaskan iparnya yang sesungguhnya akan dibuang ke Semarang oleh Jaka Tingkir karena menentang kerajaan. Karenanya Raden Adiwijaya mengarahkan pasukan perangnya menyerang Bupati Mataram dan Sutawijaya. Dan jadilah pertentangan antara Jaka Tingkir dan Sutawijaya yang pada hakikatnya adalah pertarungan benda-benda pusaka milik keduanya.

Jaka Tingkir bersenjatakan Keris Nogososro dan Sabuk Inten. Sedangkan Sutawijaya bersenjatakan Tombak saktinya yang dikenal denag Ki Pleret atau Setan Uber. Sesungguhnya Keris Nogososro dan Sabuk Inten tidak mungkin kalah mengahadapi Tombak Ki Pleret. Hanya saja ketika pertarungan itu terjadi, Tombak Ki Pleret telah diperkuatkan oleh Tenaga Nyai Roro Kidul. Sutawijaya sudah memperoleh bantuan dari Ratu Pantai Laut Selatan itu. Pada saat pusaka-pusaka itu sama-sama terbang , Keris Nogososro dan Sabuk Inten bergerak maju mundur melawan Tombak Ki Prelet. Dan walaupun pertarungan senjata-senjata sakti tersebut berlangsung dua banding satu, Keris Nogososro dan Sabuk Inten lebih banyak mundurnya, yang pada ahirnya dapat menimpa kekalahan pada diri Jaka Tingkir. Misi penyerangan Kerajaan Pajang Mataram tidak berhasil.

Setelah Raden Adiwijaya wafat (1582) yang menjadi Raja Pajang adalah puteranya yang bernama pangeran Benowo. Namun ia hanya empat tahun memerintah Pajang karena adanya perebutan kekuasaan. Terutama dalam menghadapi Sutawijaya yang diam-diam ingin menghancurkan kerajaan Pajang dari “dalam”. Pangeran Benowo sudah tidak sanggup lagi mempertahankan keberadaan kerajaan Pajang sehingga diserahkannya kepada Sutawijaya. Oleh Sutawijaya pusat kerajaan dipindah ke Mataram. Dan berdirilah kerajaan Maratam dengan rajanya pertama Sutawijaya sendiri. Setelah naik tahta kerajaan, bergelar Penembahan Senopati ing Alaga Sayidin Panatagama. (penglima perang yang gagah berani di medan laga).

Sebagian pasukan Matara masih terus memburu Keris Nogososro dan Sabuk Inten milik Joko Tingkir di Pajang. Mengetahui hal itu istri Jaka Tingkir menyembunyikan kedua pusaka tersebut kemudian melarikannya ke Demak. Di Demak janda Jaka Tingkir pun belum merasa aman, masih di bayang-bayangi pasukan kerajaan Mataram. Sehingga ia melarikan diri dengan membawa benda-benda pusaka ke arah utara melintasi laut dan mendarat di Pulau Bawean.

Sementara itu pada tempo yang tidak terlalu jauh, Raja Bone bernama Jasin Sulaiman kalah perang dalam pertempuran melawan tentara gabungan Kerajaan Goa-Tallo dan Kerajaan Sopeng. Ketiga kerajaan tersebut terletak di Pulau Sulawesi. Jasin Sulaiman kemudian lari ke laut dan sampai ke Pulau Bawean dengan membawa Kijang Kencana.

Di Pulau Bawean Jasin Sulaiman bersua dengan wanita yang membawa benda bersinar yang berkilauan tiada lain adalah janda Jaka Tingkir. Lalu kedua manusia petualang itu saling menyapa dan berkenalan. Rupa-rupanya sejoli tua tersebut saling mengorek jiwa, dan ternyata seia sekata. Mereka saling membutuhkan. Kemudian setuju untuk “berdiri” yakni berumah tangga sendiri. Maka dilangsungkan akad nikahnya.

Suatu ketika pengantin wanita bertanya “ apakah mau tidak kembali ke Bone, Sulawesi?” sang pria menjawab dengan bahasa jawa! “gelem!” maksudnya “mau” . lalu ia menjelaskan alasannya bahwa pada masa pelariannya dulu ia pernah bersumpah, sebagai raja ia mesti mangkat di medan perang atau wafat di singgasana kerajaan “jadi sekarang saya bukan raja lagi dan tidak akan kembali ke Sulawesi.” Lanjut Jasi Sulaiman.

Setelah itu ia balik bertanya ke sang istri “maukah tidak kembali lagi ke Jawa?” si istri lagi menjawab “gelem!” artinya “mau”, sebab kerajaan majang yang di rintis oleh suaminya dulu (Jaka Tingkir) sudah tidak lagi dan dipindahkan ke Mataram. Jadi mereka sama-sama gelem menetap di Bawean. Sejak itu tempat pertemuan mereka di beri nama “Gelem”. Di tulis dalam bahasa indonesia menjadi “GELAM” atau Desa Gelam.

Selanjutnya pengantin dari Sulawesi dan dari Jawa tersebut hidup bahagia. Menurut Pak Arifin Z, Kepala Desa Gelam mereka membuahkan tiga orang putera yang ahirnya merupakan awal populasi manusia Gelam.
 
Kuburan Jasin Sulaiman atau janda Jaka Tingkir. Orang Desa Gelam. Konon di namai PATAONAN atau PETAHUNAN karena gunung itu tempat menunggu yang “bertahun-tahun” lamanya sebelum Jasin Sulaiman dan Nenek Enna berjumpa.

Sedangkan benda-benda pusakanya yakni Keris Nogososro, Keris Sabuk Inten dan Kijang Kencana telah menghilang secara gaib setelah pemiliknya meninggal dunia. Menurut paranormal, pusaka-pusaka itu masi terdapat di gunung Pataonan.

Dan setelah 400 tahun kemudian.

Pada tahun 1981 dua orang dukun-besar secara mendadak datang ke Bawean. Yang pertama seorang Jendral berbintang tiga (Sudjono Hoemardani) dari Jakarta dan yang kedua berasal dari Keraton Yogyakarta( yang di daerah yogya ini dulu terdapat Kerajaan Mataram). Tampaknya anak pinak keturunan kerajaan Mataram masih terus mencari keris “sakti” peninggalan Jaka Tingkir itu.

Dan memang dua orang Pusat dua orang itu datang ke Bawean bertujuan untuk berburu benda-benda pustaka yang masih teradapat di pegunugan Pataonan. Yang dianggapnya milik leluhurnya.

Kini mera mendaki gunung itu.

Saat pertapa tiba di kuburan puncak Gunung Pataonan, waktu sudah menujukan malam jum’at. Tidak banyak orang Bawean mengetahui bahwa pada malam itu di pulaunya sedang ada bangsawan dari jawa bersemedi untuk mengambil benda pusaka Penjaga Bawean. Pada malam itu orang-orang tidur lelap dan pulas.

Dengan sesajian kain putih, bunga-bunga, dan kemenyan, kedua pertapa bersemedi dihadapan makan puncak gunung . mereka bersemedi dengan tidur terlentang. Sambil keduia tangannya memegang lipatan kain putih yang di bentuk setengah lingkaran sebagai pengikat “manjangan putih” yang diincarnya. Mereka tirakat dan menunggu. Sementara tangannya terkadang bergerak-gerak seakan ada sesuatu yang akan diraihnya. Tapi jam demi jam berlalu, rusa berselempang putih itupun tak kunjung muncul.

Pada hari ini terdengarlah gemuruh derap kaki bersepatu lars, disusul suara pria yang berat. “saya Haji Jasin Sulaiman, Islam tulen, apa maksu?” satu dari dua pertapa itu menyahut, “saya mencari keris emas, bukan untuk kepentingan pribadi tapi untuk kepentingan negara.” Suara gaib itu pun menimpali “ keris pusaka ini akan lepas dari Bawean. Tapi..... tunggu masa adil”. Demikianlah dialog pertapa dengan suara gaib yang sempat terdengar oleh Kepala Desa Gelam di tempat pertapaannya. Dialogpun berlanjut. Suara yang gaib memberi tanda kepada pertapa bahwa rusa sakit berselempang putih akan diberikannya di pintu gua di lereng gunung.

Boleh dikata pada malam yang sakral itu meraka tak membawa hasil apapun. Menurut pengakuan “pawang” tersebut bahwa keris pusaka tak akan diberikan, selain kepada putera Bawean asli. Dan katanya lagi tak mungkin diberikan walau kepada putera Bawean jika pusaka itu akan digunakan untuk yang macam-macam, kecuali demi “baldhatun thaoyyibatun wa robbul ghofur”.

Jadi, Keris Nogososro dan Keris Sabuk Inten, milik Nenek Enna yang sedang dijaga oleh rusa sakti  berselempang putih hanya akan diproleh jika si pertapa sungguh-sungguh menggunakannya semata-mata demi KEJAYAAN INDONESIA.

Nah artikle ini memang sudah sering dibahas di blog lain tapi tidak salahkan kalau Niteluzz menshare lagi silahkan share atau tinggalkan komen karena itu sangat berarti demi perbaikam ke depannya

Salam Niteluzz

0 Response to "Salah Satu Keris Untuk Indonesia Berasal Dari Bawean"

Post a Comment

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel