Kijang Kencana dan Kepala Desa Gelam


KIJANG KENCANA DAN KEPALA DESA GELAM
Foto Hanya Pemanis Bukan Rusa Sakti yang Dimaksud hehe

Sampai terbit fajar “rusa sakti” yang diburunya belum juga hadir. Sehingga para pertapa yang selalu berpakaian bangsawan Jawa itu turun dari puncak menuju gua di lereng gunung sebagaimana diisyaratkan suara yang gaib. Mereka lalu melanjutkan tirakatnya di siang bolong di pintu gua. Karena di gua itulah barangkali Kijang Kencana berada.
               
Beberapa tahun sebelum itu di sekitar gua tersebut pernah terjadi suatu keajaban yang dialami oleh Pak Arifin Z, kepala Desa Gelam. Keajaiban itu bermula dari cerita berikut ini.
               
Sejak wafatnya Kepala Desa gelam yang lama (Pak Safwari) tahun 1954, masyarakat kesulitan untuk mencari penggantinya. Kiai Nawari (yang waktu itu menjabat carik) juga tidak  bersedia untuk diangkat menjadi kepala desa. Sehigga tiga orang tokoh desa turun tangan dan bermusyawarah untuk memecahkan persoalan itu. Mereka adalah Kiai Mustafa, Kiai Yudi, dan Kiai Nawari. Ternyata juga masih menemui jalan buntu. Sampai suatu saat, seorang Kiai Mustafa menempuh jalan lain.
               
Entah dengan pertimbangan apa, beliau lalu memanggil seorang pemuda desa yang gemar bermain sepak bola dan kebetulan pemimpin pemain sepak bola di Desa Gelam. Kepada sang pemuda Kiai Mustafa berkata
               
“Arifin! Cobalah mulai besok engkau berpuasa sunah tiga hari berturut-turut!”
               
Semula Arifin heran. Namun dipikirannya hanya terlintas pernyataan setuju. Sehingga beberapa detik kemudian  -mau tida mau- ia harus menjawab.
               
“Insya Allah, Kiai!” jawab Arifin tanpa menolak sepatah pun karena Kiai tersebut memang sangat wibawa di Desanya. Apalagi pemuda Arifin adalah salah seorang santrinya.
               
Dengan membawa sejuta tanda tanya, pulanglah Arifin ke rumahnya. Namun, karna ia hormat pada Kiainya, maka dengan ikhlas ia melaksanakan puasa sunah sesuai harapan sang kiai. Dan pada hari puasa yang terakhir, Arifin dipanggil kembali oleh Kiai Mustafa.
               
“bagaimana Fin, kau laksanakan puasa itu?”
               
“Ya Kiai”
               
“Alhamdulillah. Nah, pada hari yang ke tiga ini, nanda sebaiknya berbuka di gunung Pataonan itu!” sambung sang Guru. Arifin semakin tidak mengerti. Tapi dia jalankan juga perintah Kiainya itu.
               
Sehabis waktu asar, Arifin telah berangkat ke Gunung Pataonan. Makanan dan minuman telah dipersiapkannya. Ia tidak lupa membawa parang sebagaimana ketika ia pergi ke gunung. Sambil menunggu waktu magrib, Arifin berjalan-jalan di punggung gunung sambil menikmati panorama Desa Gelam di senja hari. Lalu ia memilih lokasi yang cukup nyaman untuk berbuka puasa. Tidak jauh dari tempatnya berada, ia melihat pohon jeruk di dekat sebuah gua. Jeruk itu sedang berbuah lebat sekali. Ia memetik sebuah buah jeruk itu.
               
Ketika bedug magrib berbunyi, Arifin berbuka puasa di sana. Dan jeruk sebesar jeruk Cina itu dikuliti kemudian dimakan. Cukup gurih dan manis rasanya. Sehingga ia mau mengambilnya yang lebih banyak lagi. Cuma mau mengambil buah yang ranum-ranum itu, ia harus menancapkan sebatang kayu sebagai pemegang agar mudah meraihnya. Satu demi satu dipetiknya buah jeruk dan disimpannya di sarungnya yang telah dibentuk sedemikian rupa. Ketika jumlah jeruk di sarungnya sudah dianggap cukup, hari telah berganti remang-remang dan gelap. Maka turunlah Arifin dari lereng gunung dan pulang ke rumahnya.
               
Buah-buah jeruk itu diletakkan di “dhurung” atau balai yang ada di depan rumahnya. Keluarga dan tetangganya tahu bahwa Arifin membawa banyak jeruk, sehingga mereka ramai-ramai memakannya tanpa ada rasa curiga sedikitpun. Sedangkan Arifin pergi ke rumah kiainya untuk mengatakan bahwa puasa tiga harinya telah selesai. Ia berinsiatif sendiri menghadap kiainya seakan menunggu komando berikutnya.
               
Arifin di terima oleh sang Guru ketika mereka selesai sholat magrib. Sang guru bertanya apa-apa yang telah dikerjakan Arifin selama berpuasa dan yang dialaminya. Pemuda itu menjawab apa adanya dan yang diingatnya, sampai pada jeruk yang ditemukannya. Kiai meminta sebuah jeruk yang dimaksud. Ahirnya Arifin kembali ke rumahnya untuk mengambil buah jeruk tersebut. Namun buah jeruk itu sudah habis. Kecuali tinggal beberapa belah saja dan yang sudah dikuliti. Beberapa “lone”  itulah yang diberikan sama kiainya.
               
Begitu melihat irisan buah jeruk itu,  Kiai Mustafa langsung menyalami sembari menepuk-nepuk pundak pemuda itu. Dengan suara tuanya beliau berkata
               
“Engkau jangan menolak!” katanya tersendat. Saya sudah datang dari rumah Nawari(waktu itu Kiai Nawari menjabat carik) bahwa engkaulah yang harus menajdi Kepala Desa Gelam. Mulai saat ini kurangi bermain sepak bola, dan berprilakulah dewasa. Lanjut Kiai Mustafa. Arifin Z tidak menjawab. Dia masih minta waktu.
               
Esoknya Arifin pergi ke pintu gua Gunung Pataonan untuk mengambil jeruk lagi. Tapi jeruk itu sudah tidak ada, kecuali pohon pangopa. Sedangkan sebatang kayu yang pernah ditancapkan untuk membantu ia mengambil buah jeruk kemarin malam masih terancap disana. Dan setelah semua itu diutarakannya kepada Kiai Mustafa, beliau mengatakan kepada Arifin bahwa hal itu merupakan suatu isyarat bahwa Arifinlah yang pantas menjadi Kepala Desa Gelam. Beberapa bulan kemudian,diadakanlah pemilihan kepala desa (pilkades) dan Arifinlah yang menang. Pada tahun 1956, Arifin (masih berusia 20 tahun) dilantik dan diangkat menjadi Kepala Desa Gelam sampai pada tahun 1992 ini. Jadi beliau dipercaya mempimpin masyarakat Gelam ini sudah 36 tahun. Apakah itu karna “jeruk” di pintu gua itu? Entahlah.
               
Tetapi masih banyak penduduk gelam yang mengaku bahwa mereka sering melihat kejadian aneh di sekitar gua itu.kadang-kadang ada lombok yang batangnya sangat besar sekali. Pohon mangga dan jambu yang sangat lebat buahnya dan bagian-bagiannya berwarna biru. Ada kolam air panas yang berpindah-pindah tempatnya, dan lain-lain. Kijang Kencana yang sering disebut-sebut dalam buku ini sering berlari-lari kecil pada sebagian penduduk dengan jarak  yang tidak jauh. Jika rusa berselempang warna putih ia sedang memperlihatkan dirinya, mata seolah-olah rugi jika berkedip. Sebab tubuhnya benar-benar ramping, bulu kulitnya berkilau dan kadang-kadang tanduknya menyerupai emas. Pendeknya, ia cantik sungguh! Suatu kali ada polisi hutan menjumpai manjangan sakti itu. Ia kemudian ingin menembaknya.ketika ia telah dibidiknya, rusa itu menjelma mahluk lain dan akan mengancam polisi hutan tersebut. Sehingga tak jadi menembaknya ia lari pontang-panting.
               
Beberapa puluh tahun yang lalun(sebelum ada larangan berburu rusa Bawean), Pak Arifin Z dan penduduk desa mengatakan bahwa pada suatu siang agak senja merek berburu rusan di Gunung Pataonan. Sebagaimana biasa, mereka pun memanfaatkan beberapa anjinguntuk membantu pemburuannya. Sesaat para pemburu melihat rusa berselempang. Mereka setuju untuk mengejar rusa terbaik itu. Rusa sasaran yang di buru dan dihilau, anjing-anjing juga sudah dikerahkan. Tatkala rusa itu dikepung, terjadilah apa yang harus terjadi.  Orang-orang pada tercengang. Kawanan anjing juga menghentikan kejarannya dan tak menyalak lagi. Sedangkan kijang yang diburunya sejak siang tadi, tenang-tenang saja, lalu masuk ke gua dengan aman. Para pemburupun ahirnya maklum.
               
Kini pada tahun 1981, yang berburu bukan rakyat Gelam,melainkan para “orang sakti:” dari pusat. Telah semalam mereka menunggu di hadapan makam di puncak gunung. Tapi sia-sia. Hanya terdengar suara gaib yang mengisyaratkan agar pindak ke pintu gua di lereng gunung. Ketika sang surya melepaskan sinarnya ke bumi Gelam, rusa incaran belum juga muncul dari dalam gua. Sampai masyarakan dan anak-anak kecil kampung sekitarnya telah berdatangan untuk menyaksikan hasil buruan mereka. Dan pada pukul sembilan pagi terjadilah keanehan di pintu gua. Hadirinpun terbelalak. Semuanya menyaksikan pemandangan yang tiba-tiba angker tersebut. Perasaan takut dan haru bercampur jadi satu. Di dalam gua ada ular besar, sebesar tong. Warna semua tubuhnya biru laut. Ular besar itu amat cantik. Matanya bagai mata seorang gadis. Namun dari matanya itu mengeluarkan sinar tajam. Ular tersebut benar-benar dalam keadaan ingin menerkam. Sehingga ada seorang tentara yang ingin menembaknya. Tapi oleh sang dukun dilarangnya karena tidak akan membahayakan. Di sebelah kiri ular, ada gambar yang mirip sekali dengan pengeran di Ponegoro. Hanya tutup kepalnya tidak memakai serban, melainkan menggunakan udeng tancak sebagaimana udengnya pendekar silat Bawean atau seperti udengnya Sultan Hasanuddin Makassar.
               
Sejenak setelah itu, orang-orang pada menyaksikan apa yang diperbuat oleh  pertapa. Terjadilah dialog antara lain sebagai berikut.
               
“assalamu’alaikum..” kata seorang pertapa.
               
“waalaikumsalam” jawab dari dalam gua.
               
“kami memaklumi bahwa pusaka-pusaka tersebut tidak akan dilepas dari Bawean. Tapi  bagaimana kami membuktikan bahwa kami telah melakukan tugas negara?” dari dalam gua ada jawaban “ambillah apa yang ada”.
               
Begitu suara gaib itu lenyap, melompatlah seekor anak manjangan dari dalam gua ke hadapan pertapa. Yang kemudian seorang pertapa tersebut menangkap dan memasukkannya ke kandang yang telah disediakan. Demikianlah cerita kak suri, pak Rifa’i, Kiai Nawari,Pak Zini dan beberapa tokoh Gelam lainnya.
               
Tapi sumber lain menyatakan bahwa mereka tak mendapatkan rusa berselempang tersebut, hanya kebetulan ketika itu ada seorang penduduk Komalasa yang menangkap anak rusa. Nah, daripada pulang ke Jakarta denga tangan hampa, maka dibawalah anak rusa itu ke pintu gua. Oleh sang dukun anak rusa itu di beri selempang benang lawai sambil mengucapkan kalimat-kalimat tertentu. “ yang gaib telah memindahkan “kekuatan” rusa berselempang kepada anak rusa itu,” kata seorang tokoh lain yang menirukan ucapan sang pertapa sepuluh tahun yang lalu.
               
Kemudian setelah anak rusa itu dibawa ke Jakarta tahun 1981, ramai orang memperbincangkan bahwa rusa sakti penjaga pusaka telah berpindah  tempat. Dengan berpindahnya Kijang Kencana tersebut berarti Pulau Bawean telah kehilangan “Pamornya” atau sudah tidak bersinar lagi . benarkah?

Sekilas begitulah kisah kijang kencana dan Kepala desa Gelam. Semoga bermanfaat dan silahkan dishare agar yang lainnya juga memiliki tambahan wawasan pengetahuan tentang kisah pulau Bawean kita

Itu saja dari kami Salam Bawean Salam Niteluzz

0 Response to "Kijang Kencana dan Kepala Desa Gelam"

Post a Comment

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel